Blog EntryAliran Uang dalam ICT Indonesia versus GlobalOct 20, '07 3:12 AM
for everyone
Editorial: Paparan ini berkembang dan bersumber dari beberapa kali saya mencoba menjelaskan pandangan saya kepada beberapa teman, dalam obrolan obrolan informal. Apa yang ada di paparan ini bukanlah hasil penelitian empirik kualitatif, namun merupakan suatu estimasi hipotetis dengan logika (Common sense) dan data yang tertangkap sekilas. Sejauh ini saya belum berhasil menemukan artikel yang cukup kuat dan fokus membahas hal ini. Tentu saja akan lebih menarik jika bisa mendapatkan kajian empirik yang lebih komprehensif dan akurat. Dalam Obrolan-obrolan tentang ini, ada keragaman reaksi tanggapan, yang mungkin sebagian tidak terlalu serius, sebagian bisa menjadi masukan berharga. Paparan ini saya pasang di sini, sebagai sharing gagasan, juga kebetulan karena saya pas ada waktu mempostingnya, karena lagi nunggu sewa kerjaan belium datang.

Aliran Uang dalam ICT, Indonesia versus Global
Sebuah penjelajahan hipotetis

1. ICT, the final frontier (of also stray perspectives)
ICT (Information and communication Technology), boleh jadi bisa dikatakan sebagai suatu ranah baru, ranah pergumulan berbagai isu-isu dari mulai privacy, global business, fenomen psikologi sosial, dan politik. Salah satu lorong gang kecil di desa isu ICT adalah isu finansial ekonomi, yaitu apakah suatu negara, atau komunitas diuntungkan oleh adopsi ICT, atau apakah suatu bangsa makin miskin atau makin sejahtera, dengan ICT, dan bagaimana itu terjadi. Tentu saja ada berbagai teori dan pendekatan yang lebih luas dan mendalam untuk pertanyaan seluas itu. Namun sementara mari kita melihat sebuah bagian kecil dari peta tersebut, yaitu bagaimana sebenarnya aliran uang di dunia ICT, di Indonesia. Aliran uang tersebut akan dilihat pada beberapa kasus.
Sebuah berita di Tempo pernah menayangkan sebuah perkiraan tentang nilai transaksi Bisnis ICT di Indonesia untuk tahun 2007, yang diperkirakan akan mencapai sekitar 2.2 trilyun.  Tentu di luar berita tersebut kita bisa bertanya seberapa besar sesungguhnya Uang yang beredar di ICT dan mengalir dari mana kemana? Berikut ini adalah beberapa (diagram) yang mencoba secara hipotetis memetakan aliran Uang tersebut.

2. PC, Komputer pribadi
Mari kita melihat wilayah pembelian pribadi, yaitu ketika si badu, atau si Hasan membeli PC, atau laptop, atau segala asesoris yang berkaitan seperti misalnya Flash Disk, mouse, printer, dsb. Kita tentu akan membeli laptop pertama tama dengan datang ke toko roti, Jika tidak ada maka kita akan ke pasar perangkat komputer, seperti misalnya mangga dua di jakarta. Di sana kita bisa saja membeli PC rakitan, dengan spesifikasi tertentu, atau PC branded, dsb. Tentu saja si pemilik toko akan senang, dan tentu saja pegawai penjualnya mendapat gaji, atau upah, dsb. Ini diambil dari laba, atau selisih antara harga dari Toko dengan nilai Benda itu (ini jelas). Mari kita lihat sekilas visualisasi aliran uang tersebut:



Dalam Ragaan tersebut kita lihat bahwa ada Pihak pembeli, yang ditandai T1, membeli pada penjual, yang ditandai T2, ada laba perusahaan penjual (T101) dan (T102), yang langsung maupun tak langsung, Yang langsung adalah laba perusahaan penjual, yang kemudian sebagian menjadi upah/gaji karyawan, dan memberi lapangan pekerjaan dan mensejahterakan para pegawainya. Ada ekonomi lokal tak langsung yaitu si penjual menyewa tempat di mall, membeli rak dan etalase, pasang iklan, dan sampai juga pesen deliveri mie ayam dari kantin sebelah, dsb. Negara mendapatkan uang dari pajak, retribusi tempat usaha, dsb.
Si penjual/pengecer mendapatkan barang mungkin dari jaringan importir, di sini ada ekonomi lokal di perusahaan importir, baik langsung maupun tak langsung, dan juga ada pendapatan negara dari pajak import, bea masuk, dsb.
Akhirnya tentu sebagian uang masuk ke produsen Perangkat di negara asalnya. Pertanyaan nya seberapa besar proporsi ini? Karena kita di jaman internet, maka kita bisa browsing searching untuk mendapatkan perbandingan harga di berbagai tempat. Dari situ kita akan punya "hint" bahwa proporsi itu tidak besar, laba penjualan satu unit PC tak mungkin mencapai 50 persen dari nilai PC tersebut di produsennya.

Kalau kita menengok kata produser, maka apakah itu berarti Silicon Valley? Untuk prosesor dan beberapa komponen lain memang demikian. Namun Asia akhir akhir ini, juga punya beberapa produsen hardware tertentu dari mulai mouse (Benqi, logitech) sampai ke laptop (Acer, Wearnes, dsb). Di Indonesia sendiri, casing dan perakitan juga ada jatah meski tak besar.

Dari proporsi ini, kita akan memperkirakan bahwa sebenarnya "Bisnis IT di Indonesia" booming dipandang dari nilai transaksi, berarti juga makin besar uang berasal dari Indonesia, menuju ke luar negeri.

3. Proyek Pemerintah
Bagaimana di luar consumer Good? Konsumer, mungkin hanya punya uang membeli 1 laptop saja per 2 tahun. Pemerintah kadang punya "proyek" yang lebih besar, misalnya "sistim informasi bla bla untuk departemen bla bla". Atau proyek "E-goverment". Proyek semacam ini menjadi semacam proyek Jasa, yaitu Jasa pembangunan suatu "sistim informasi" atau "sistim lainnya". Dalam hal ini uang dari Indonesia (anggaran negara, atau utang negara) akan diterimakan kepada perusahaan yang lolos tender.
Perusahaan semacam ini (biasanya dengan kualifikasi ikut tender) sering disebut sebagai ICT companies. Beberapa proyek ICT kadang juga terpadu dengan pengadaan Software dan Hardware, sekalipun terkadang paketnya dipecah ke beberapa perusahaan. Namun pada intinya tetaplah sering "Information System" juga berarti pembelian Hardware dan software.



Pada ragaan ini ada ada suatu pada marka T203, ini adalah uang yang mengalir ke para pakar/juru ICT seperti programmer, webdesigner, trainer, dsb. Ekonomi lokal yang mengalir dari Perusahaan konsultan secara tak langsung juga ada. T3 dan T4 merupakan situasi di mana proyek ICT kadang dipadukan dengan pengadaan perangkat keras, dan perangkat lunak yang akhirnya akan mengalir ke produsen di luar negeri.

4. ICT di luar PC: telpon seluler
Kalau kita anggap ICT tak hanya terbatas pada keluarga PC, mari kita lihat dalam kasus Telpon Seluler. Pada ragaan berikut:



T2 adalah provider layanan seluler seperti misalnya Telkomsel, Mentari, dsb. Ekonomi lokal yang terkait langsung dengan Perusahan Provider adalah para penjual eceran isi ulang pulsa.

Pada dasarnya pengguna Telpon seluler kebanyakan harus menggunakan pesawat telpon seluler maka pengguna juga perlu membeli pesawat telpon, ini digambarkan pada blok T3 pengecer Hand-set, dan ini punya cabang ke Ekonomi lokal yang terbangkitkan, dari mulai gerai pengecer, penyedia reparasi. T7 adalah asesori lokal seperti misalnya sarung, cover, kalung penggantung, dan hiasan tambahan, sektor ini sangat lokal, namun ini adalah barang barang murahan.

Perusahaan Provider memang penerima proporsi terbesar dari uang beli pulsa dan perdana, namun provider juga harus membeli infrastruktur seperti instalasi BTS, repeater, jaringan fiber  optik sampai ke akses ke panggilan internasional lewat satelit, terlukis pada T5 dan T6. Di sini ada ekonomi lokal juga misalnya tiang menara untuk antena BTS adalah ekonomi lokal. T10 adalah produsen hand-set, yang sementara terdekat di Asia adalah samsung.

Barangkali kasus ini mungkin ada proporsi yang cukup besar uang dari Indonesia (para pengguna Telepon) yang tertahan berputar di Indonesia, namun tetap ada aliran keluar yang tidak kecil yaitu pada T8, T9 dan T10.

5. Aliran Uang antar negara Asia, perluasan kasus
Salah satu, dari berbagai reaksi yang muncul dari analisis di atas adalah ungkapan bahwa analisis ini mengada-ada, bersifat pesimistik, dan juga ada ungkapan bahwa negara dunia ketiga dalam hal ICT memang tidak punya pilihan lain kecuali mengalirkan uang ke luar negeri. Tetapi apakah memang terkunci demikian? India dan Filipina adalah salah contoh beberapa negara asia yang mempunyai pendapatan devisa dari ICT. Beberapa klien proyek ICT di AS dan di Eropa, dilayani oleh perusahaan milik India dan filipina. Pekerjaan semacam itu dilakukan oleh perusahaan India, baik yang membuka cabang di AS, maupun tanpa cabang. Beberapa perusahaan Filipina juga melakukan banyak jasa misalnya training ICT, test sertifikasi kualifikasi programming dan sebagainya di AS. Secara umum model ini dapat digambarkan dalam ragaan berikut.


Pada ragaan tersebut, nampak ada aliran uang dari AS dan Eropa, ke negara Asia seperti India dan filipina (saya merasa kurang tepat menggunakan istilah negara maju dalam ICT, karena di ranah ICT, semua fihak bisa jadi jawara). Dari beberapa obrolan sementara secara informal nampaknya kalangan bisnis di Indonesia belum tertarik melirik pemasukan dari luar Indonesia.

6. Penutup
Paparan ini hanyalah semacam pertanyaan, peta untuk membangun pertanyaan dan mencari jawaban lebih mendalam, dan menjelajahi pemikiran kita tentang apa itu kemajuan ICT. Beberapa fihak sering mengatakan bahwa dunia ICT di Indonesia sangat maju, dan ini ditunjukkan dengan tersedianya beberapa gadget teknologi tinggi, dan volume transaksi pembelian komputer. Mungkin saja cara mengukur kemajuan tidak terbatas hanya dengan mengukur seberapa uang yang kita belanjakan ke luar.
Banyak isu isu lain yang berkaitan dengan ini, namun lain kali saja saya paparkan kalau saya ada waktu




riza6315 wrote on Oct 20, '07
idaman said
Beberapa fihak sering mengatakan bahwa dunia ICT di Indonesia sangat maju, dan ini ditunjukkan dengan tersedianya beberapa gadget teknologi tinggi, dan volume transaksi pembelian komputer. Mungkin saja cara mengukur kemajuan tidak terbatas hanya dengan mengukur seberapa uang yang kita belanjakan ke luar.
Setuju Mas Id.
Kemajuan bisa diukur dari siapa penerima manfaatnya, siapa yang mengelola dan siapa yang memilikinya. Lho kok mremen advokasi ... he he he
idaman wrote on Oct 20, '07
mremen advokasi ... he he he
mremen itu nama kota di jerman ya?
dyru wrote on Oct 23, '07
Indonesia jadi konsumen aja deh :p
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help