Reviews

ReviewLets Rock The CyberJun 4, '06 1:56 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Romance
Author:Yunis kartika
Let's Rock the Cyber, Yunis kartika, Chibi publishing, Bandung, 2006, ISBN:997-25-4850-5. 193 halaman


Ulasan pendek ini ditulis untuk novelet yunis kartika yang berjudul “Let’s rock the cyber” (selanjutnya mari kita sebut dengan LRTC-yk) yang tema utamanya adalah sepenggal perjalanan yunis kartika di dunia chatting di yahoo messenger internet. Ulasan ini ditulis untuk diskusi buku tersebut di mana rekan asep samboja akan membahas dari segi sastra, dan saya diminta membahas dari segi “fenomena internet”.

PENGANTAR: KENDARAAN BAGI BENAK
Ketika manusia menemukan alat transport beroda (dari sepeda ke mobil), maka jangkau jelajah perjalanan fisiknya meluas. Teknologi Informasi dan komunikasi, setelah diciptakan,akhirnya menjadi sepeda bagi benak, yang memperluas jangkau jelajah benak manusia. Perluasan ini bisa berupa produksi yaitu menulis, memotret, mencorat coret, menyimpan, dsb, misalnya dengan kamera digital, dengan komputer, video editing, grafis komputer, yang disimpan di komputer, atau flash disk atau keping CD dsb, dengan menerbitkannya di blogs, website dan sebagainya. Perluasan ini juga berupa konsumsi dengan membaca berita di website, berselancar di internet, melakukan pencarian pencarian bahan di internet. Bentuk perluasan lain adalah interaksi, yaitu lewat email, mailing list, saling komentar di web-blog, jaringan sosial internet (seperti friendster, dsb), sampai dengan bentuk komunikasi langsung interaktif yang disebut sebagai chatting.

Munculnya kendaraan akan diikuti dengan munculnya jalan jalan, lalu jaringan jalan raya, kemudian akhirnya akan mempengaruhi tata ruang, membangun suatu semacam pola tata kota, menjadi suatu ruang publik tersendiri. Suatu ruang publik di matra komunikasi elektronik. Beberapa kalangan menyebutkan ruang ini sebagai ruang maya/virtual (dikontraskan dengan ruang kenyataan) namun istilah ini ber-resiko, karena soal kutub yang nyata dan yang tidak nyata, fantasi atau realitas tidak sebegitu saja sejajar dengan kutub ruang internet maupun bukan internet. Ilusi bisa dibangun begitu saja di ruang nyata seperti para pesulap atau para penipu, sandiwara bisa jadi bagian kehidupan sehari-hari dimanapun.

Fenomena ruang internet sebagai ruang publik telah menjadi perhatian tersendiri, baik dari aspek bisnis, dari sudut pandang akademis (misalnya karya-karya akademis yang bahkan membahas kontribusi internet dalam dinamika sosial politik). Juga dalam karya film misalnya film hollywood berjudul “you’ve got email”.

RUANG PUBLIK RUANG PRIVAT
Yahoo messenger, mailing list, atau dunia internet menjadi semacam ruang publik tetapi sekaligus ruang privat, karena bisa terjadi komunikasi 2 arah ekslusif maupun komunikasi publik, dan keduanya bisa terjadi secara paralel simultan pada saat yang sama. Salah satu yang membedakan ruang elektronik dengan interaksi fisik adalah detachability dan anonimitas. Detachability adalah keadaan dimana kita setiap saat dapat begitu saja meninggalkan gelanggang, seperti kita mematikan televisi dengan memencet tombol remote. Sedangkan anonimitas adalah bahwa kita dapat masuk ke interaksi ini tanpa menunjukkan wajah fisik dan atribut sosial ekonomi. Hal ini kemudian yang dialami oleh pengalaman penulis (Yunis) sebagai “panggung sandiwara” dan dunia “fantasi”

TIDAK ADA YANG ISTIMEWA
Yunis dalam LRTC-yk nya nampak rajin mencatat dialog dialog percakapan, (sampai kadang membacanya saya merasa di-setrap).
Namun demikian, pengalaman ber-relasi di dunia chatting kurang lebih memanglah demikian, tak ada yang secara khusus istimewa dalam chattter diary ini. Apa yang dituliskan Yunis mungkin sekali serupa juga dengan apa yang akan dialami oleh siapapun yang berinteraksi dengan dunia Yahoo messenger. Kejadian kejadian yang ada dalam pengalaman yahoo messenger yunis (asmara, kontak emosi, dinamika sosial lingkup kecil) juga pada substansinya kejadian yang paralel di dunia yang tidak ada yahoo messenger. Perluasan ruang interaksi dan komunikasi ke internet juga bukan barang baru di dunia tulis menulis, Ayu utami dalam novelnya mengungkapkan bagian bagian kritis cerita yang terjadi di komunikasi elektronis. Dewi lestari banyak menggunakan perca potongan email di novelnya. Labibah zein juga mengolah kumpulan Addicted to webblog

PANGGUNG SANDIWARA SIAPA?
Penuturan bahwa dalam novel ini tokoh utama (kiki), hampir tiap malam terhubung pada internet di yahoo messenger menunjukkan bahwa bagi kiki, relasi di yahoo-messenger adalah bagian dari kenyataan, bagian dari keseharian, seperti orang setiap pagi membuka jendela dan mengambil koran di halaman atau pergi ke pasar. Secara jelas digambarkan, tokoh kiki tak lain dari suatu penggalan pengalaman si penulis ini (yunis kartika) sendiri. Dengan demikian maka batas antara novel fiksi dengan laporan liputan menjadi tipis, ini menegaskan kembali bahwa yang disebut novelet ini adalah lebih nyata dari fiksi. Apakah LRTC-yk ini sebuah buku-harian atau sebuah novel? Sebuah buku harian akan bisa banyak bicara juga seperti misalnya catatan harian seorang demonstran nya soe hok gie. Yunis nampaknya kurang tegas menentukan sikap, antara diary dan novelet, antara panggung sandiwara dan catatan sejarah. Mungkin panggung sandiwara itu ada di kepala si penulis (yunis) sendiri.

Kalau berhenti di novel atau diary ini, maka saya kira tak ada apa apa dengan LRTC dan YK nya.


Category:Books
Genre: Sports
Author:Draeger, Donn F & Tsuchiya, Akira
Ninjutsu: The Art of Invisibility--Japan's Feudal-Age Espionage Methods
Tuttle Publishing,December 1994, ISBN:0804815976
124 p, Paperback,Illustrations

Sekilas...
Buku yang juga dijual lewat Amazon ini, memang agak sistimatis tapi tetap saja seperti wacana "demam sensasi ninja" lainnya, tetap banyak tidak akurat, dan bahkan terseret dalam isapan jempol khas dunia industri perfileman...

Segala buku ninja yang menjabarkan ninja itu dengan pakaian khusus Hitam adalah dongeng panggung belaka, dalam sejarah sesungguhnya ninja tidak memakai kostum khusus, justru di situ letaknya inti "stealth", bahkan para penonton program TV BUSER pun tahu persis bahwa "berpakaian preman" itu adalah teknik dasar menyembunyikan diri. Kalau liat aparat pake seragam yah semua penjahat kabur..
Yang seragam item-item itu malahan FBR kaleeeeee....

anyway.. ilmu tua, dan sejarah preman ninjutsu memang di-eksploitasi menjadi keren oleh film, dengan demikian mengaburkan ilmu sebenarnya yang memang sudah tersembunyi dan disamarkan di antara ilmu-ilmu lain dan mitos mitos.

Buku ini termasuk gagal menemukan beberapa "bab dasar" di ilmu ninjutsu. Misalnya Buku ini gagal membedakan antara ilmu ngilang "invisibility" yang di kiranya termasuk dalam Kakuremino no Jutsu (cloak of insibility technique) dengan ilmu ngilang yang sebenarnya. Kakuremino hanyalah ilmu pengalih yang kemudian merebak jadi mitos. Kalau mau dirunut di warisan ilmu ilmu bela diri low profile (bela diri introvert kalee) yang sebenarnya, teknik ngilang resminya ada di Onshinjutsu (art of invisibility), and Hensojutso (disguise) tapi itu juga penyamaran (ilmu ninja sendiri dalam bukunya di samarkan) di bab tentang pernafasan kita malahan akan menemukan pukulan jitu, sedang di berbagai uraian teknik perkelahian jarak dekat, sebenarnya tersembunyi ilmu penyembuhan sendi dan pelemasan. Teknik menghilang yang sebenarnya tersebar di berbagai ilmu resmi ninja yang keliatannya netral.

Kerendahan hati untuk tidak muncul, kesabaran, keakraban (manunggal dengan) sekitar, dan kehalusan gerak cepat (belajar dari waiter restoran padang), adalah dasar dasar dari invisilbility.

Kesimpulan umum: kalau baca buku ini: "Guys don't try this at home! (it won't work)"

NB:di YM aja kalau mau invisible... pake stealth setting ! :P


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help